๐ฉ๐๐๐ ๐ถ๐๐๐๐ ๐จ๐๐๐ ๐ฑ๐๐ ๐ ๐ฝ๐๐๐๐, ๐ป๐๐๐ ๐ฏ๐๐ ๐๐ ๐ด๐๐๐๐๐ ๐ป๐๐๐๐ ๐บ๐๐๐
- Coach Fadzil
- Dec 25, 2025
- 1 min read
Pernah terbaca tak artikel seseorang jadi viral sehari. Esok, dunia terus scroll.
Gambar seorang anak Orang Asli berdiri berkaki ayam di tepi jalan. Baju lusuh. Pandangan kosong.
Caption berbunyi seakan: โSedihnya hidup merekaโฆโ
Like beribu. Share beratus. Komen penuh simpati.
Tapi selepas itu?
Anak itu tetap berjalan jalan sama. Minum air sungai yang sama. Tidur di rumah yang sama.
Yang berubah cuma satu kita rasa diri kita baik sebab dah tekan โshareโ.
Sebelum ini, banyak kisah Orang Asli tular:
โข Kanak-kanak Orang Asli berjalan jauh ke sekolah tanpa kasut
โข Keluarga Orang Asli makan ubi & hasil hutan kerana bekalan terputus
โข Anak Orang Asli cemerlang UPSR tapi hampir tercicir sebab kemiskinan
โข Komuniti Orang Asli dipindahkan atas nama โpembangunanโ
Setiap kali viral, kita terkejut. Padahal ini bukan perkara baru.
Yang baru cuma: kamera kita sampai ke kampung mereka.
Masalah mereka bukan sebab mereka malas.
Masalahnya sebab mereka selalu jadi pilihan terakhir.
Yang lebih menyakitkan?
Bila ada yang berkata:
โKenapa mereka tak ubah hidup?โ
โKenapa tak ikut cara orang bandar?โ
Seolah-olah dunia ini cuma ada satu versi kehidupan
dan selain itu dianggap gagal.
Padahal Orang Asli bukan miskin budaya. Mereka miskin akses.
Miskin suara. Miskin peluang.
Dan bila mereka akhirnya muncul di media sosial, selalunya bukan sebagai manusia tetapi sebagai konten sedih.
Kita bersimpati, tapi masih selesa dengan sistem yang buat mereka terpinggir.
Itu yang paling bahaya.



Comments